Sang pemimpi, harusnya kita tersindir

Images by 21Cineplex.com
Sang Pemimpi merupakan kelanjutan dari tertalogi karya penulis Andrea Hirata. Dimana film ini adalah lanjutan dari film pertamanya yaitu Laskar Pelangi. Kalau Laskar Pelangi mengisahkan masa kecil Ikal dan sahabat-sahabatnya, dalam Sang Pemimpi ini kisah berlanjut saat Ikal mulai beranjak dewasa. Tepatnya ketika Ikal duduk di bangku SMA.
Ikal sudah beranjak dewasa dan sudah duduk di bangku SMA. Dia bertemu dengan sepupunya yang bernama Arai, yang ditinggal oleh ayahnya dan harus hidup sebatangkara. Akhirnya Arai diasuh oleh orang tua Ikal yang artinya Arai dan Ikal tinggal satu atap.
Dalam perjalanan waktu Arai mulai menabur binit-bibit mimpi kepada Ikal dan juga sahabat satu sekolahnya yaitu Jimbron. Arai berkata jika mereka bersekolah yang rajin dan selalu berprestasi, maka mereka akan melanjutkan kuliah di Perancis bahkan bisa berkeliling dunia dengan memanfaatkan beasiswa.Jelas saja mimpi-mimpi tadi membuat Ikal dan Jimbron menjadi termotivasi untuk menggapai impian tersebut. Mereka jadi terbuai dengan mimpi-mimpi, Arai memang mempunyai daya imajinasi yang luar biasa.
Layaknya anak muda, kisah cinta pun menghinggapi kehidupan mereka. Arai si kreatif jatuh cinta pada Zakiah. Begitupun dengan Jimbron yang jatuh conta pada Laksmi, gadis pemurung pekerja pabrik cincau yang tak pernah tersenyum sejak orang tuanya meninggal. Ikal tertarik pada gambar wanita molek dari reklame sebuah film Indonesia di bioskop.
Namun untuk menggapai impian tersebut tidak mudah mereka lalui. Banyak rintangan dan cobaan yang harus Arai, Ikal, dan Jimbron hadapi. Apalagi ketika ayah Ikal harus berhenti bekerja, beban mereka pun bertambah. Uang tabungan yang bertahun-tahun mereka kumpulkan harus direlakan untuk membiayai kehidupan orang tua ikal.
Namun dengan perjuangan yang gigh, akhirnya Arai dan Ikal mampu mewujudkan mimpi mereka
Sindiran buat kita!
Film ini memang terlalu panjang dan kadang sedikit menjenuhkan. Banyak adegan-adegan yang seharusnya tidak perlu ditampilkan, padahal unsur edukasinya sangat kental sekali. Jadi terkadang penonton merasa sedikit bosan dan mengantuk.
Tapi secara keseluruhan film ini benar-benar menyindir kaum muda yang saat ini sedang melanjutkan pendidikan di SMA maupun perguruan tinggi. Dimana saat ini kaum muda masih meminta-minta uang pada orang tua tapi tidak serius dalam sekolah atau kuliah.
Film ini benar-benar membuka mata siapa saja bahwa mimpi bisa diraih dengan semangat, perjuangan, keyakinan, ketekunan, dan juga doa. Ikal dan Arai yang dari daerah terpencil rela untuk membanting tulang demi membiayai kuliah mereka di Jakarta dan juga meraih beasiswa S2 di Paris. Lalu bagaimana dengan kita?
Harusnya kita malu…
Movie Details











Jadi semakin gak sabar pengen segera nonton film ini…